Foto Saya

Subscribe now!My Feed

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 Januari 2012

Keakuanku Hanyut di Kebeningan Sungai Tanpa Papan Nama

0 comments

Lanjutan kisah santri kenthir


Awal kedatangan ku di Pondok Pesantren ini, (aku sebut ponpes tanpa nama, karena tak ada papan nama layaknya diponpes lainnya) demi menenangkan dan menyamankan hati dari keruwetan, kesempitan, dan keletihan hidup yang kujalani selama menjadi orang yang tak pernah taat mematuhi perintahNya.

Muak dengan segala kesenangan duniawi, muntah dengan jebakan hidup kapitalisme, dan jenuh dengan mimpi-mimpi modernitas. Segalanya telah mensistem dan mempolakan kehidupanku menjadi dua pilihan utama: bertindak menyerang atau bertahan, ikut berebut atau menyerah pada keadaan.

Sabtu, 21 Januari 2012

Indahnya Surga Negri 'Tanpa Papan Nama'

5 comments


(Ditengah-tengah keterdesakan lembaga pendidikan pesantren lainnya dari arus modernisme dan kapitalisasi pendidikan), justru pesantren 'Tanpa Papan Nama' berdiri kokoh dan tetap berjaga jarak dengan modernisme dan kapitalisasi pendidikan. Bahkan di pesantren 'Tanpa Papan Nama’, saya menemukan integralitas (kemanunggalan) antara proses pendidikan dengan realitas social, antara ilmu yang diajar dengan obyek kehidupan, antara kyai, santri, dan masyarakat sekitar, dan lain sebagainya.

Rabu, 18 Januari 2012

3 Kali Renkarnasi Mantan Seorang Atheis

3 comments


“Innaa Lillahi Wainna Ilaihi Rhoji’un”

(Sesungguhnya AKu Milik Allah dan Akan Kembali Pada Allah)



Telah Berpulang Santri Kenthir atas kepimilikan segala yang ada dalam dirinya kembali kepada Allah.

Telah mati dengan tenang kehidupan Socrates yang ada pada diri santri kenthir.

Yah, sekarang Socrates itu telah mati pada dirinya.

Kamis, 22 Desember 2011

Inikah Makna PemberianMu...???

7 comments

Teman yang tak pernah
menghinaku namanya 'meong'
Aku terlahir sebagai bayi. Tumbuh berkembang menjadi anak manusia. Dan sampai sekarang aku masih kumpulan dari anak-anak manusia. Bukan kumpulan dari orang yang terpinggirkan.

Sebelum menjadi janin aku adalah sesuatu yang kosong tanpa wujud - tanpa makna, lalu  diinginkan hadir demi melengkapi kebahagiaan sepasang suami isteri. Sejak memulai kehidupan didalam kandungan aku dielus-elus dengan harapan dan do`a-do`a:  menjadi manusia berbakti pada orang tua, berbakti pada Tuhan, dan berguna pada sesama. Memasuki usia kandungan 9 bulan, aku sangat diharap lekas keluar berada dikehidupan alam dunia.

Perjuangan hidup mati seorang ibu mempertaruhkan nyawa bergulat dengan rasa sakit mencabik-cabik, itulah bukti, bahwa aku memang sangat diinginkan hadir didunia ini. Akibat paksa tangan kasar seorang dukun bayi dan silau gemerlap cahaya dunia, aku tersentak,  lalu menangis keras-keras. Anehnya para tetangga yang mengelilingiku, termasuk bapakku, tertawa-tawa gembira menyaksikanku menangis. Dan ibu yang melahirkanku dianggap sebagai pahlawan dunianya para lelaki yang telah berjasa melahirkan bayi jantan dengan selamat. Oh....inikah alam dunia? Alam kontradiksi, alam yang sungguh-sungguh aneh bagiku.

Selasa, 16 Agustus 2011

Menelusuri Jejak Kaki Pincang Mbah Sholeh

13 comments

(baca : Perempuan Tua dan Gerobak Sayur Tuanya) adalah kisah singkat dari seorang Mbah penjual sayur. Saya akan mengulas kembali cerita Mbah Sholeh panjang lebar, bagaimana dia berjuang melampaui garis nasib.

Menjadi Mbah sholeh sekarang, dengan kaki pincang dan suami yang sakit-sakitan tak bisa bekerja bukanlah kemauannya pada waktu muda. Mbah Sholeh yang terlahir sebagai putri pasangan keluarga miskin ini, masa mudanya dilalui dengan bekerja keras meraih masa depannya. Namun nasib berbicara lain. Lima tahun setelah anak semata wayangnya meninggalkan dia untuk selama-lamanya, Mbah Sholeh (muda) pernah mengadu nasib merantau ke Kecamatan Muncar Banyuwangi (kota paling timur di Jawa Timur). Di sana Ia berjualan Erok-erok (tahu petis) dan jagung bakar selama tiga tahun. Tapi hasilnya hanya cukup untuk dimakan sendirian. Dia merasa, kerja merantau tidak membawa hasil, lalu memutuskan kembali ke dusun Sumberjo - Glundengan (dusun asli tempat tinggalnya). 

Kegagalan mengubah garis nasib tidak menjadikan Mbah Sholeh putus asa. Berusaha dan berdoa'a adalah jalan yang harus ditempuhnya sebagai seorang muslim. Walau masa depan baginya masih suram, Mbah Sholeh terus saja berusaha bekerja apapun, kerja serabutan, yang penting halal. Pernah bekerja berjualan biji dawet keliling. Dan disela waktu lain berjualan pakaian bekas dan lain-lain. Dari kerja serabutan ini Mbah Sholeh mendapatkan penghasilan tiga ribu lima ratus rupiah per hari. Lumayan untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan suami tercintanya. Namun keadaan nyaman ini tidak berlangsung lama. Untuk mengatasi kemiskinan absolutnya (abadi), Mbah Sholeh menjadi buruh gudang tembakau dengan gaji seribu lima ratus rupiah per hari. Tapi tak berselang lama, si-Mbah di - PHK musiman oleh perusahaannya. 

Karena tidak terbiasa menganggur, akhirnya Mbah Sholeh coba-coba berjualan sayur-mayur pakai keranjang bambu dengan dijunjung diatas kepanya berkeliling dusun Sumberjo. Bukan hanya dusun Sumberjo Mbah juga sering berjualan di dusun tetangga yang jaraknya 3km dari dusun Sumberjo. Hmm bukan jarak yang dekat ditempuh dengan hanya berjalan kaki.  Modal awalnya dari menjual seluruh pakaian bekas yang dipunyainya. Keadaan ini bertahan cukup lama. 

Hingga pada suatu hari kesialan menimpa Mbah Sholeh. Alas keranjang bambu satu-satunya yang ada diatas kepalanya jebol tak kuat menyangga beban barang dagangannya. Mbah Sholeh mengisahkan : "Setelah keranjang tempat nasi itu jebol, oleh tetangga diberikan (gratis) keranjang yang sudah kotor sekali! Ini Mbah Sol, keranjang sayur!. Besok jualan lagi ya,? Iya! jawab Mbah Sholeh

Keuntungan sedikit dari berjualan sayur memakai keranjang ini oleh Mbah Sholeh diberikan beras dimasak bersama suaminya. Mbah berkata : " Uang itu saya dibelikan beras seperempat kilogram, lalu dimasak dengan suami Mbah, itupun Mbah sudah seneng le meski Mbah gak punya anak...!! Setelah itu besoknya Mbah buat kulakan sayur lima ikat, dua ikat lalu dijual di sekitar daerah tetangga. Saat Mbah berjualan, keranjangnya tumpah, kaki Mbah tersandung batu, karena kaki Mbah yang satunya cacat. Mbah jatuh di depan rumah Bu Sarinah. Berantakan, ikan laut didalamnya yang hanya ada tiga rantang juga ikut berantakan. Nyeri sekali!! 
Sampai rumah Haji Sukur Mbah di naikkan becak, mau dibayar tukang becaknya gak mau. Biar sudah bu Sholeh ndak papa saya niat bantu Bu Sol kok!!!katanya

Fatal kecelakaan itu membuat kaki kiri Mbah Sholeh bengkak. Terpaksa dia harus beristirahat sejenak dirumah. Belum sembuh benar sakitnya, ia bergegas lagi berjualan sayur. Namun akibat kakinya yang masih belum kuat benar, dia berjalan sering terjatuh. Akibatnya kaki si-Mbah yang sebelahkiri cacat sampai sekarang.

Seseorang sering melihat Mbah Sholeh saat berjalan  menjinjing keranjang sayur dengan kaki sebelahnya yang terseok. Seseorang itu tak tega, lalu memuatkan gerobak bambu (ukurannya seperti becak) unutk Mbah Sholeh tanpa meminta imbalan sedikitpun.

Sejak saat itu Mbah Sholeh tak lagi berjualan dengan menjinjing keranjang bambu. Dan Mbah tidak sering jatuh lagi. Senang sekali Mbah Sholeh. Ia bisa menambahkan isi dan jenis barang dagangannya sesuai dengan kapasitas gerobak bambunya. Sayang, uang yang demilikinya terlampau sedikit untuk memenuhi keinginan tersebut. Sedikit demi sedikit, setiap hari, Mbah Sholeh berusaha terus memupuk modal jualannya. Akhirnya, harapan untuk menambahkan isi dan jenis barang dagangan terpenuhi. Gerobak bambu itupun muatannya penuh dengan berbagai macam jenis makanan dan sayuran.

Betapa bangga Mbah Sholeh telah bisa menjadi demikian. Dengan semangat baru, gerobak bambunya terus saja didorong, tak peduli melewati cuaca panas dan hujan. Boleh saja, Mbah Sholeh meng-egoisi kesehatan tubuhnya yang terus menurun tetapi, geobak bambunya mulai tidak mau diajak kompromi menemani memuat barang jualannya setiap hari. Gerobak bambu itu mulai protes : "Kekuatan geobak bambu ada batasnya Mbah Sol!!". Gerobak itu mulai rewel setiap kali didorong. Gerobak bambunya mulai bunyi kriek-kriek-kriek!! 


Untungnya ada Bari yang melihat, (Bari itu tetangga Mbah Sholeh yang sehari harinya menjadi tukang las listrik) bahwa gerobak bambu Mbah Sholeh tidak lagi layak pakai. Bari memanggil Mbah dan menawarkan jasa agar bambu-bambu yang reot itu diganti dengan jeruji besi. "Mengenai biaya diangsur semampunya aja Mbah". Dan....disetujuinya tawaran Bari tersebut.

Kini Mbah Sholeh sedikit lebih senang. Dan barang dagangannya juga bertambah banyak Alhamdulillah!!

Sekarang apa lagi yang Mbah inginkan dalam hidup ini ? Ia hanya ingin memperbaiki rumahnya yang sudah reot, merawat suaminya yang sering sakit-sakitan. Benarkah Mbah? Duh, tentu saja Mbah Sholeh tidak ingin rahasia hatinya di ketahui orang banyak. Bisa riak, ya Mbah! Biarlah, orang lain mengetahui keinginan dan tujuan hidup itu karena perilakunya.




Indo : "Gak beli beli nak"

Ngomong - ngomong gerobak sayur Mbah Sholeh usianya tiga tahun lho....!!! itu termasuk sudah tua, alias kuno. Sementara teknologi baru terus datang silih berganti menyaingi gerobak sayur Mbah Sholeh. Belum lagi Supermarket, Mall, dll, yang siap menggerus konsumen Mbah Sholeh.

Terus gimana Mbah?

Ya didorong saja terus gerobaknya!!! Yel yel kebanggaan perjuangannya jangan lupa! "Tak leh meleah, nik?" (Nggak beli - beli, nak)

Apakah hanya itu yang didapat dari semangat yang berkobar-kobar seperti semangat Mbah Sholeh?? Lalu bagaimana dengan mereka yang malas??

Sabtu, 13 Agustus 2011

Perempuan Tua dan Gerobak Sayur Tuanya

24 comments

"Hidup adalah perjuangan tanpa henti - henti. Usah kau menangisi hari kemarin. Hidup adalah perjuangan. Bukanlah arah dan tujuan. Hidup adalah perjalanan..." (DEWA)


Syair lagu DEWA diatas bisa menjadi sebuah perenungan bagi kita yang terkadang sering menganggap hidup adalah bermalas - malas dan enak - enak'an.



Dan bisa jadi, syair diatas adalah sebuah cerminan dalam kisah Mbah Sholeh (diambil dari nama anaknya), sosok perempuan tua berumur 70-tahunan, penjual sayur keliling dusun Sumberjo - Glundengan. Mbah Sholeh mendorong kereta gerobak sayurannya, berjalan dengan kaki yang terseok - seok. Nenek yang bernama asli Rohyati ini adalah perempuan tua satu - satunya penjual barang kebutuhan dapur kaum ibu, dengan memakai gerobak dorong, berkeliling dusun Sumberjo - Tanjungsari (30 km arah keselatan kota Jember).

Sebelum subuh (pukul 03.50 WIB), setelah bangun tidur, ia sudah berangkat membawa gerobak kesayangannya ke pasar Sumberjo untuk belanja barang dagangan yang akan dijual pada siang harinya. Setelah pulang dari pasar, Mbah Sholeh masih sibuk menata, dan menyiapkan barang dagangannya sampai jam 06.00 WIB. Sesudah itu Mbah Sholeh berangkat menjajakan jualannya keliling dusun Sumberjo. Entah laku atau tidak jualannya, saat terdengar Adzan Dzuhur, Mbah Sholeh pulang kerumah menunaikan sholat Dzuhur dan beristirahat sebentar. Setelah itu, ia-pun berangkat kembali berkeliling sampai malam mulai tiba. 

Tidak tahu pasti berapa keuntungan hasil berjualan seharian. Pokoknya, jumlah uang itu kemudian dibelanjakannya kembali keesokan harinya, Mbah Sholeh cukup menyisihkan uang sisa belanjanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari - hari bersama suami tercintanya yang sudah tak mampu lagi bekerja. 

Sambil berjalan terseok (karena kaki sebelah kirinya cacat), Mbah Sholeh terus saja mendorong gerobak tua itu seharian. Sering terlihat terik matahari menyengat sekujur tubuh si-Mbah yang semakin lemah. Demikian dihatinya selalu berdoa, "mudah mudahan sampai sore nanti, akan membawa keberuntungan." Bagi mbah Sholeh, bekerja adalah berdo'a dan berdo'a adalah bekerja. 

Dimanapun ada Mbah Sholeh, pasti akan terdengar yel - yel perjuangan kebanggaanya, "Tak leh -meleah nik?"{Madura}  "gak beli sayur deeek" {Indo}. Begitulah Mbah meneriakkan yel yelnya, tak peduli siapa, tua atau muda panggilannya tetep nik (adik).

Minggu, 07 Agustus 2011

Mereka di Jakarta

15 comments

Tulisan ini didapat dari keterangan salah seorang mantan srintil Jakartaan. Berikut paparannya.

Kebanyakan perempuan desa yang ke - Jakarta kerjanya di panti pijat dan pastinya memijit. (baca : potret perempuan desa)

Ada dua cara memijit yang satu pijit shiatsu (pijit ala Jepang) dan kedua pijit tradisionil. Kebanyakan yang di pijit adalah orang cian laki - laki (tionghoa muda). Kalau orang jawa jarang yang ke panti pijat. Saat bekerja biasanya memakai pakaian minim kayak you can see. Saat berjalan menemui tamu mereka umumnya masih menggunakan pakaian seragam. Tapi setelah mereka bekerja di kamar yang tertutup, seragam itu dilepas karena untuk bergerak memijit agak susah.

Tarif pijitnya para tamu umumnya per- dua jam Rp. 90-150rb yang langsung di bayar ke kasir. Fasilitasnya mandi uap, mandi panas dingin, bar dan lain - lain. Sebelum ketemu meses (mesage) tamu bertanya dulu ke wetris {lagi lagi saya bingung tentang ejaannya silahkan di benarkan sendiri} tentang meses yang cocok untuk memijitnya. Biasanya tamu lebih suka meses yang putih, yang kecil, yang pinter mijit dan pinter service, atau pinter semuanya. Yang pinter semuanya ini yang paling laris ketamu.

Upah perjamnya enam sampai tujuh ribu. Banyaknya upah kerja sehari tergantung pada banyaknya tamu yang datang padanya. Biasanya rata - rata sampai data delapan jam dikalikan enam ribu berarti 46rb. Kalau lagi sepi sekitar hanya dapat 25 ribu. Upah memijit tidak dibayar perhari langsung tapi perbulan. Gaji sebulan dari majikan kalau lagi stabil sekirat 1,5 juta-an. Sedang biaya hidup para meses sebulannya minimal 1,5 jutaan juga. Jadi upah mijit hanya cukup untuk biaya hidup sehari - hari di Jakarta. Selain gaji pokok perusahaan panti pijat, para meses juga dapat uang tips (uang yang langsung di berikan tamu). 

Uang tips ini kalau di total sebulannya lebih besar dari gaji pokok dari pe-rusahaan. Dapat uang tips tergantung pada ceweknya juga. Kalau si cewek sudah kategori ngetop hanya mijit saja tak ada servis lainnya, dia bisa di kasih Rp. 100.000,- minimal Rp. 50.000,- Ada juga yang gak ngetips istilahnya disana 'tamu bolong'. Uang tips di berikan tamu atas kesepakatan mereka ketika di dalam kamar. Kalau lagi ramai meses bisa dapat uang tips satu jutaan sehari.

Gaya hidup mereka kalau sudah dua bulanan muali bekerja perbahannya cepat sekali di banding mereka di desa. Selain sudah akrab dengan cowok yang cakep - cakep mereka juga cepat dapatduit banyak . Mereka sering datang ke tempat tempat hiburan malam dan sesekali cari sampingan. Gaya dandanannya juga sudah berubah rambutnya sudah rebondingan. Bentuk tubuh dan kulitnya berubah lebih seksi, putih, mulus. Karena perawatannya memang mahal. Untuk wajah dan kullit agar putih bersih bisa sampai sekitar 1,2jtan. Kerja sebulan mereka sudah bisa beli HP, baju-baju bagus dan baru, kadang juga sudah mendapat pasangan. Nah pasangan ini juga bisa menjadi sumber keuangannya.   

Rabu, 03 Agustus 2011

"Perempuan Jakartaan" : Potret buram perempuan desa

22 comments

Jika kita bagian dari rombongan para pemudik hari lebaran nanti, ketika berada di kampung halaman, pasti akan kaget melihat banyak anak gadis di desa yang berseliweran di jalan dengan dandanan modis dan seksi. Mereka ini bukan mahasiswi yang sedang KKN, bukan pula bintang sinetron yang lagi shooting di desa. Setelah di telusuri lebih jauh ternyata mereka hanya anak desa yang pulang dari tanah rantau.

Si Srintil anak gadis desa Tanjungsari (kampung saya) dua tahun yang lalu sebelum merantau, penampilannya masih kampungan. Waktu itu kulitnya masih hitam dan rambutnya masih keriting. Kalau ngomong logat maduranya masih kental. Dia juga hanya anak buruh tani dan hanya tamatan SMP. Tapi, sekarang? Srintil sudah menjelma seperti bukan anak gadis desa, seakan bukan lagi anak dari buruh tani miskin. Kulit wajah dan rambutnya sudah seperti para bintang sinetron. Penampilannya sudah gak dekil seperti dulu lagi. Kemana - mana bawaannya HP Blackberry menggantung di lehernya. Rumahnya sudah bergedung mengkilat. Srintil sekarang sudah gaul banget gitu, lho! Engkok been (indo: kamu aku) sudah jarang terdengar dari mulutnya, karena sudah di ganti dengan elo guwe. Pokoknya Srintil sekarang sip deh. berkat merantau ke-Jakarta dia sekarang sudah jadi orang kaya baru di desa. 

Tidak hanya si - Srintil , seorang yang beruah drastis dalam segi penampilannya. Pengamatan saya menunjukkan, masih banyak perempuan desa lainnya tak jauh berbeda dengan sosok Srintil. Dan itu menarik perhatian saya untuk mengamati, sebagai fenomena perubahan masyarakat desa. Ada apa gerangan dengan Srintil?

Dari sekian banyak informasi yang berhasil saya dapat, hampir setiap desa bahkan dusun se Kab. Jember bagian selatan pasti ada sosok srintilnya yang bekerja ke-Jakarta. Disana profesi mereka kebanyakan sebagai tukang pijat (mesage.) {bacanya meses. Jika ejaan salah mohon di benarkan sendiri}. Tak sampai tiga tahun mereka bekerja rata - rata sudah mampu membuat rumah bagus di banding rumah tetangganya, beli cash sepeda motor baru, beli sawah, sapi dan lain - lain, yang tak mungkin bisa didapatkan kalau dia masih tinggal di desa.

Informasi yang saya dapatkan dari banyak orang yang saya percaya, para srintil ini telah menyebar keseluruh kecamatan se - Kab. Jember bagian selatan. Bukan hanya di desa saya saja (Tanjungsari), termasuk desa Balung (daerahnya uncle/kang lozz akbar) banyak sekali sosok srintil yang berkeliaran saat musim mudik tiba. Tapi menariknya dari sekian dusun yang ada srintilnya, padukuhan Tanjung Sari - Glundengan (kampung halaman saya) lebih sering di sorot masyarakat luas desa sebagai pusat kaumnya srintil.....

bersambung..... 

Kamis, 21 Juli 2011

Dari tata lingkungan ke-warung remang-remang

33 comments

Assalamualaikum,
Belum puas menulis tentang keremang remangan dunia malam warung kopi, kali ini saya melanjutkan tulisan  dari yang sebelumnya Memandang keremangan warung kopi & Menengok Perempuan Warung Kopi Semoga sobat dan saudara-saudara semua tidak bosan membaca tulisan yang berkelanjutan ini.


Entah setuju atau tidak, keberadaan warung kopi sudah terlanjur terjadi sedemikian rupa. Melanggar norma atau tidak, menyempal dari moralitas masyarakat atau tidak, pada kenyataannya, realitasnya, remangnya, kehidupan warung kopi, sepertinya menjadi terang di tengah - tengah lampu peradaban masyarakat dusun. Komentar - komentar miring atas keberadaannya, seperti harus minggir ketepi. Komunitas warung kopi melenggang meninggalkan seruan-seruan moral masyarakat dusun. Masyarakat hanya bisa sebatas berpendapat "mereka (komunitas warung kopi) merupakan komunitas titik - titik yang harus di titik - titik." 

Mengapa demikian? Dalam hal ini Ustad Abdul Bakir yang sekaligus guru ngaji saya semasa awal kuliah dulu memberikan penilaian tersendiri : " Masyarakat tingkat kepeduliannya rendah.Pemerintah tidak peduli akan hal itu. Apakah beliau - beliau (pemerintah dan masyarakat) itu terlalu sibuk atau memang tidak ada pembagian kerja yang nyata. Sehingga timbul suatu realitas kegiatan sebelumnya yang masyarakat tidak menyetujunya, terutama yang agamis. jadi pokok persoalannya pada kepedulian"

Dimaksud kepedulian, yakni rasa terpanggilnya pihak - pihak terkait untuk memikirkan dan mengubahnya; "sedia payung sebelum semua terjadi."  Kongkritnya, masyarakat dan pemerintah harus mulai memikirkan tata lingkungan desa, yakni keberadaan warung kopi/lesehan harus dilihat dulu cocok enggaknya dengan populasi dan sosio-kultural masyarakat dusun.

Jadi fenomena warung kopi versus pandangan tak sedap masyarakat, merupakan bagian kecil persoalan akut di desa. Yakni tidak jelasnya tata lingkungan. Disini yang di perlukan sence of crisis-nya (pengetahuan akan krisis yang tengah dialami). 

Tata desa, dimanapun faktanya memang nggak ada, kok! Yang lagi trend - kan hanya pembangunan desa. Bapak Bupati Jember pernah punya slogan keramat "Menata kota, membangun desa". Padahal sebelum dia ngomong seperti itu, pembangunan desa sudah berkembang pesat lho! Yang harus dimulai, kan tata desanya! Sehingga tak carut - marut begini. Alhasil survey membuktikan bikin rumah sakit megah di desa, tapi mahal tak terjangkau orang kebanyakan. Tetap saja orang miskin tak bisa menikmatinya. Bikin perumahan, menggusur persawahan. Bikin pabrik peternakan, dekat dengan rumah masyarakat. Sehingga tetangga sekitar merasa bising, bau udara yang dihirupnya tidak sedap, petani jadi resah dan sebagainya. 

Bener-bener gak peka lingkungan, jadinya semrawut. Banyak sampah dan limbah dibuang ke sungai pertanian. Akhirnya kuwalitas air sawah semakin terus menurun. Dan masih banyak lagi contoh pembangunan desa dalam arti fisik telah memudhorotkan lingkungan desa

Itu berakibat ketatanan sosial - kultural masyarakat desa. Karakter masyarakat desa menjadi berwatak; asal bangun, asal usaha, asal ngomong!! Tak peduli dampak lingkungannya. Akibatnya, tingkat kepedulian antar sesama masyarakat menjadi rendah. Elo elo, guwe guwe!! Diperlukan teropong atau peta kecil tata kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya masyarakat desa. Tata kehidupan ataupun pemikiran desa tidak akan mandiri  jika dilaksanakan secara top - down (kayak jaman orde baru). Tapi baiknya dirancang oleh masyarakat sendiri lewat pintu kepedulian dan toleransi. Dengan dirangsang kebijakan pemerintah, baik daerah maupun desa.

Kalau sudah ngomongin keeremangan warung kopi dengan menatap kegaris vertikalnya, maka keremangan warung kopi versus masyarakat moralis, merupakan akibat dari sebab remang-remangnya tata lingkungan sosial-kultural desa. Namun itu menjadikan warna, hitam dan putih yang tak pernah bisa ditolak oleh siapapun Lalu bagaimana selanjutnya? Selanjutnya! Seperti bunyi iklan parfum axe, terserah anda! Silahkan berfikir dan berembuk menurut posisi garis vertikal dan horisontalnya masing-masing. Wassalam.


Senin, 18 Juli 2011

Menengok Perempuan Warung Kopi

18 comments

Gambar Ilustrasi






Lanjutan kisah (baca : Memandang keremangan warung kopi). Berikut beberapa paparan pendapat dari perempuan penjual kopi remang - remang 

"Saya bisa mengalah kalau tidak boleh berjualan kopi disini. Tidak boleh karena lingkungan dusun sini banyak musholla dan masjidnya. Tapi saya tidak terima kalau saya menjual kopi ini dikatakan menjual diri pada banyak laki - laki. Saya punya harga diri, saya bukan perempuan murahan. Saya menjual kopi ini hanya untuk menafkahi keluarga. jika keluarga saya kelaparan, apa masyarakat yang memberi makan"



Kalimat diatas keluar dari mulut perempuan penjual kopi yang identitasnya minta disamarkan, ini nadanya penuh dengan emosional. Bagi perempuan muda nan jelita sebut saja namanya Srintil, saat dia melayani pelanggan (pembeli) komunikasi yang terbangun tidak melanggar norma - norma agama. Hanya sebatas ngobrol biasa. Dan tidak dilakukan secara sembunyi - sembunyi. Dia sadar, bahwa sorotan masyarakat santri sekitar menganggap hina pekerjaannya sebagai perempuan nan cantik penjual kopi. Tapi, dia kebingungan akan bekerja apa untuk menafkahi kebutuhan keluarganya sehari - hari, kalau tidak berjualan kopi.

Seakan mewakili kaum perempuan penjual kopi lainnya, si Srintil ini tidak ingin perempuan dibatasi pergaulannya : "Kalau hanya sebatas ngobrol dengan laki - laki ditempat warung kopi dikatakan telah melakukan maksiat, berarti segala yang bukan muhrimnya dilakukan perempuan di pasar; kantor; dan lain - lainnya, itu juga maksiat? Kenapa itu tidak di maksiatkan saja? Disini negara Indonesia bukan arab"

Stigma tidak sedap demikian tidak hanya dialami Srintil seorang, tetapi banyak perempuan penjual kopi lainnya yang menerima perlakuan serupa, walau tensinya berbeda. Seperti yang diungkap oleh Ririn (nama samaran), penjual kopi di Alun - alun Kecamatan Balung (30km ke selatan kota Jember Jawa Timur) : "Banyak yang ngegosipin aku. tapi katanya ibuku, gak usah di pedulikan. Lha wong cari makan sekarang susah, kayak di iklan itu lho!!hari gini masih belum bisa makan.....???" Menurut Ririn yang penting tidak melanggar hukum negara berhak orang itu mau kerja apa saja.