Foto Saya

Subscribe now!My Feed

Sabtu, 21 Januari 2012

Indahnya Surga Negri 'Tanpa Papan Nama'

4 comments


(Ditengah-tengah keterdesakan lembaga pendidikan pesantren lainnya dari arus modernisme dan kapitalisasi pendidikan), justru pesantren 'Tanpa Papan Nama' berdiri kokoh dan tetap berjaga jarak dengan modernisme dan kapitalisasi pendidikan. Bahkan di pesantren 'Tanpa Papan Nama’, saya menemukan integralitas (kemanunggalan) antara proses pendidikan dengan realitas social, antara ilmu yang diajar dengan obyek kehidupan, antara kyai, santri, dan masyarakat sekitar, dan lain sebagainya.

Saya teringat dengan pandangan seorang filsuf pendidikan, Paulo freiree, bahwa pendidikan disekolah merupakan bentuk pendidikan kapitalis (penuh penindasan). Sekolah berjarak dan mengasingkan diri dengan realitas sosial. Sekolah merupakan kepanjangan tangan kaum kapitalis untuk menyiapkan siswanya menjadi tenaga kerja atau sebagai pelayan kepentingan para pemodal. Ilmu yang diajarkan kepada siswa disekolahan merupakan ilmu menetapkan kondisi social kapitalis, bukan keilmuan untuk tujuan merubah realitas social yang lebih baik. Siswa di sekolah tak lebih dianggap sebagai bahan mentah untuk diproses menjadi pekerja yang sesuai dengan standard kebutuhan kaum kapitalis. Saya tidak perlu mengurai panjang lebar lagi tentang ini, banyak tokoh pendidikan bersepakat bahwa system pendidikan sekolah telah menuju dehumanisasinya (penghancuran kemanusiaan).

Itulah realitas dehumanisasi pendidikan sekolahan yang menurut saya sampai sekarang masih up todate. Namun di pesantren 'Tanpa Papan Nama' kapitalisasi pendidikan tidak berlaku. Ponpes yang dipimpin Lora  (kiai dalam bahasa Jawa) Nurul Huda, terletak di desa Jambuan-Kecamatan Sumber Sari - Jember ini, menyadarkan saya, bahwa modernisasi pendidikan yang telah mengkanibal pesantren klasik lainnya ternyata tak mempan menghabisi ponpes tanpa nama ini. Juga mengajarikan, bahwa ponpes ini sedang menunjukkan diri melakukan perlawanannya pada dominasi kapitalisme.

 Menyiapkan Generasi Masyarakat tauhid Masa depan
Titik Pijak Dan Orientasi Pendidikan Ponpes 'Tanpa Papan Nama'
  
Setiap pagi pukul 06. 00 WIB, setelah mengaji kitab kuning, para santri mengambil tugas dan peran masing-masing sesuai dengan kemampuannya. Ada yang menyapu halaman, mengolah kebun, memasak, berbelanja, dan lain lain. Sampai jam 09. 00 pagi, para santri sarapan pagi yang telah tersediakan di dapur pesantren. Selesai sarapan mereka kembali pada kegiatannya masing-masing. Tak terlihat ada iri tugas dan peran kegiatan diantara mereka. Semua saling bahu membahu. Yang sangat berkesan, bahwa mereka melakukan tugas dan perannya dengan penuh kesenangan bukan karena keterpaksaan diri. Berbeda dengan pengalaman saya waktu sekolah, dimana ‘daftar piket menyapu ruang kelas’ telah memaksa saya dan saya pun terpaksa melakukakan kegiatan menyapu ruang kelas. Di Ponpes ini tak ada daftar piket kegiatan bagi santri (daftar piket =undang-undang pemaksa siswa).

Mendekati adzan dhuhur mereka berhenti sejenak dari kegiatan untuk mandi dan mencuci pakaian. Tanpa perlu bunyi bel layaknya di sekolah (bunyi bel sekolah = pusat pengendalian kegembiraan siswa), semua santri pergi kesungai yang airnya teraliri dari bebukitan. Saya amati, tak terlihat diwajah para santri ada tekanan kejiwaan selama melakukan proses pendidikan di pesantern ini. Byuuur, byuur, byur..! para santri itu berlompatan mandi disungai sambil bersalto.

Begitulah aktifitas pendidikan para santri setiap hari. Ada yang telah sampai 10 tahun, 7 tahunan, 3 tahunan mereka menetap tinggal dan hidup dipesantren ini. Selesai mandi mereka pergi kemasjid untuk sholat dhuhur, setelah itu melanjutkan kembali kegiatannya. Jika ada seorang santri yang merasa capek atau lelah, ia lalu istirahat tidur tanpa ada rasa iri dari santri lainnya. Menjelang malam mereka semua berkumpul dimasjid melanjutkan mengaji kitab kuning.

Awalnya saya pikir pemandangan pendidikan para santri ini tak lebih sebagai pendidikan keakheratan saja. Karena apa yang diajar di dalam kitab kuning akan sulit membumi ditengah-tengah masyarakat yang telah berubah 'sok modernis' ini. Faktanya juga, para tetangga saya yang mayoritas santri setelah terjun ditengah masyarakat ternyata tak mampu berbuat banyak merubah keadaan sosial. Malah cenderung tak berdaya ikut arus perubahan social desa. Oleh karenanya, mengenai pendidikan yang diterapkan ponpes ini, banyak pertanyaan bergelantung di benak tertuju kepadanya:

Bagaimana kelak nasib para santri setelah lulus dari ponpes saat terjun didalam persaingan masyarakat yang membutuhkan keahlian dan keterampilan kerja? Bagaimana pula nasib wawasannya kelak jika mereka tidak dibekali pengetahuan umum (ilmu alam, social, dan kenegaraan)? Layaknya lembaga pendidikan lain, ponpes 'Tanpa Papan Nama' tidak memperkenalkan model pendidikan berjenjang, dan tanda kelulusan (sertifikasi). Lalu bagaimana bisa nanti para santri masuk bekerja kejalur birokrasi, bekerja di perusahaan, menjadi kepala desa dan sebagainya jika mereka tak mengantongi ijasah Negara?

Setelah berkali-kali mengikuti ceramah pengajiannya Lora (kyai) Nurul (pimpinan pondok pesantren), baru saya mulai memahami apa arti pendidikan yang di inginkan dan dikembangkan oleh Ponpes 'Tanpa Papan Nama' ini. Dan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan atas kegiatan pendidikan santri diatas akan terjawab dengan sendirinya.

Pertanyaan-pertanyaan diatas merupakan hasil dari bawaan berfikir sepihak kita atas dunia pendidikan selama ini. Pertanyaan yang berangkat dari pemikiran pragmatis, yang terbiasa menilai bahwa segala proses pendidikan yang dilakukan oleh para siswa/santri harus berorientasi pada kesuksesan. Kita kadung terbiasa menganggap bahwa lembaga pendidikan adalah untuk ‘mencetak manusia’ berdaya saing. Kita terlanjur mendarah daging menganggap ijasah adalah bekal utama untuk mencapai kesuksesan hidup. Kita terlalu percaya buta bahwa sekolah adalah lembaga pendidikan untuk untuk menata segala kehidupan ini. Seakan melebihi kepercayaan kepada Tuhan: “sekolah adalah lembaga untuk mencetak manusia pintar. Jika ingin pintar maka wajib bersekolah”. Benarkah itu semua?

Realitasnya banyak kesimpang siuran dan kekeliruan keyakinan kita atas dunia pendidikan selama ini. Banyak sekolah didirikan untuk mencetak manusia sukses namun kenyataannya semakin merajalelanya korupsi, hutan-hutan banyak yang gundul, angka kriminalitas dan pengangguran semakin tinggi. Banyak universitas meluluskan para sarjananya yang menempati posisi sebagai pejabat Negara namun kenyataannya kondisi negara tidak berubah menjadi lebih baik. Banyak manusia pintar, manusia cerdas, manusia unggul produk sekolahan/ pesantren semi sekolahan, namun yang jujur bisa dihitung dengan jari padahal jujur itulah kunci kemaslahatan ilmu dan amalnya bagi manusia lain.

Titik pijak (paradigma) dan cara memandang pendidikan yang demikian diatas menjadikan kekeliruan kita dalam mengorientasi proses pendidikan itu sendiri. Pengertian umumnya, pendidikan adalah proses siswa untuk menguasai dan menjadikan alam dan social sebagai obyeknya yang harus ditundukkan. Sehingga yang dominan adalah sifat ego sentris siswa kelak. Titik pijak demikian menyeluruh dalam dunia pendidikan sekarang, sehingga orientasi dari pendidikan itu sendiri amat materialistik. Maka wajar jika komersialisasi pendidikan terjadi dimana-mana. Dan ukuran keberhasilan siswa kelak terukur dengan, sejauh mana ia telah mendapat dan menguasai materi duniawi.

Padahal pendidikan itu sendiri adalah proses kehidupan yang teramat luas. Bukan lah sekedar di sekat dalam tempat bergedung setelah selesai maka berarti telah selesai pula proses pendidikannya. Kita kadung salah kaprah memandang antara proses pendidikan dengan pelatihan. Padahal apa yang terjadi disekolah dan di unversitas realitasnya tak lebih sekedar lembaga pelatihan bagi siswa bukan proses pendidikan utuh itu sendiri.

Pendidikan dalam pengertian Pondok pesantren Tanpa Papan Nama, adalah proses kehidupan siapapun yang selalu akan mendapat ujian hidup dari Allah yang akan terus berkelanjutan. Pendidikan adalah proses hidup untuk mengabdi sebagai kholifah Allah dimuka bumi dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan selalu medekatkan diri pada Allah sampai ajal menjemput karena segalanya dari Allah dan pasti kembali kepada Allah. Ponpes adalah sekedar alat dari banyak alat dalam proses pendidikan hidup. Pembelajaran bagi santri 'Ponpes Tanpa Papan Nama' tidak terikat pada sosok tertentu dan ruang tertentu pula. Ia bisa belajar dari masyarakat sekitar dan ditempat yang lebih luas dari sekedar ruangan kelas. Sedang kitab kuning adalah kerangka diri untuk menuntunnya agar selalu berada dijalan kemaslahatan.

Pendidikan dipesantren tanpa papan nama berpijak pada garis “tiada Tuhan selain Allah”, bahwa Allah yang maha segalanya mencipta, maha mengatur, maha berkehendak, atas segala proses pendidikan yang terjadi di ponpes “tanpa papan nama.” Kyai, Santri, Masyarakat pesantren hanyalah sebagai hamba yang tak bisa apa-apa dan hanya bisa jika dibisakan oleh Allah. Pendidikan ada karena diadakan oleh Allah. Proses pendidikan dan penyelenggaraanya ada karena digerakkan Allah. Sedang kyai, Santri dan masyarakat hanyalah pekerja Allah yang hanya melaksanakan perintah-perintah Allah. Untuk menjalani perintah Allah sebaik-baiknya kita harus berpegang teguh pada Alqur`an dan Al-hadist. Untuk mampu memahami hikmah dibalik kejadian-kejadian perintah Allah, dan agar selalu mengingat Allah, pesantren bersama masyarakat harus selalu mengkajinya bersama-sama dengan merujuk pada kitab Al-Hikam.

Bahwa pembelajaran bagi para santri dalam sehari-hari adalah merekam data-data yang ada dalam kitab kuning kedalam pikiran dengan selalu mendekatkan hati untuk selalu tertuju pada Allah. Selain itu santri juga harus bekerja setiap harinya. Disini pengertian bekerja adalah melaksanakan perintah Allah sebaik-baiknya. Pekerjaan adalah ketetapan mengerjakan sesuatu sesuai yang diperintahkan Allah melalui sebab kyai. Berbeda devinisi kerja umumnya. Pekerjaan selalu dipahami sebagai kegiatan untuk mendapat uang. Namun definisi pekerjaan diPonpes Tanpa Nama yakni proses melaksanakan perintah Allah melalui sebab mengerjakan sesuatu dan berakibat (hasil) juga karena perintah Allah melalui untung atau kerugian. Maka santri sedang menyapu halaman, mencuci, memasak, berbelanja, dan sebagainya itu berarti mereka sedang bekerja. Dan titik tekan dari pekerjaan adalah ibadah yakni untuk mendapat ridho Allah dan supaya tidak mendatangkan kemudharatan. Pekerjaan itu adalah ibadah dengan maksud untuk menjadikan kemaslahatan diri dan manusia lainnya.

Mengenai tentang nasib kelak setelah santri dinyatakan cukup mumpuni hadir ditengah-tengah masyarakat menjadi sebagi masyarakat, Kyai dan pesantren menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Karena Allah lah yang maha menentukan (khoirihi wa sarrihi minallihita`ala: baik dan buruk segala sesuatunya Allah yang menentukan). Menjadi apapun kelak jika ia telah sesuai dengan koridor dijalan yang benar dan lurus diridhoi Allah maka itu adalah nikmat hidup yang harus di sukuri. Sebab dunia ini tak lebih persinggahan sementara para santri untuk mewujudkan rahmatan lil `alamin demi kehidupan abadi kelak. Tak perlu gelisah untuk ikut arus realitas sosial yang masih penuh kesimpang siuran.

Mengenai wawasan umum terkait dengan kehidupan sosial adalah alat bukan tujuan itu sendiri. Ia tak lebih dari sekedar data untuk dikaji dan diambil manfaatnya. Bukan kepentingan mutlak. Sebagai data maka wajib bagi santri untuk merekamnya dalam nalar dengan tujuan untuk menambah pengatahuan hikmah dan untuk memperkokoh keimanan. Tak perlu mengggantung kepada apapun dan siapapun selain kepada Allah. Hanya kepada Allah-lah kelak nasib para santri ditentukan. Bukan kepada ijasah, bukan kepada pemerintah. Allah-lah yang maha penolong. Bukan karena modal, bukan karena jabatan, bukan karena realitas kapitalistik sehingga Allah di tiadakan dan menjerumuskan kedalamnya.

Demikianlah titik pijak dan orientasi pendidikan para santri Tanpa Papan Nama, saya urai sesuai dengan pengamatan saya dan perbandingannya dengan realitas pendidikan pada umumnya. Banyak hal mengenai makna-makna didalamnya yang perlu juga diketahui teman-teman, namun kerena keterbatasan saya, sehingga catatan ini masih banyak kekurangan disana sini. Namun saya bangga mampu menuliskannya, karena ternyata model pendidikan seperti di 'ponpes tanpa papan nama' walau bukan satu-satunya di nusantara, namun telah menunjukkan taringnya berhadap-hadapan dengan model pendidikan kapitalistik.

Asrama Santri 

Membangun individu bertauhid guna terbentuk masyarakat tauhid Jambuan Jember

Kolam induk sebagai penopang ekonomi Masyarakat Tauhid


Juri foto bareng Eddy Arif Sugiarto yg berkunjung di ponpes dari Bali



'Surga' Itu
Sungai di belakang 'surga' Jambuan

Santri kentir menikmati segarnya air sungai belakang 'surga'

Poto lagi


Masjid pesantren. Disini santri kentir sholat berjamaah. Mengaji hukum agama, hukum pergaulan, dan ilmu Al Hikam.

Asrama Santri dan kolam pembibitan ikan lele

Jalan menuju 'Surga'

Pak Anwari (penyair Jakarta) berkunjung dan dipertemukan dengan santri kentir disana. Beliau pernah memberi 1 pack rokok kepada santri kentir....Apa kabar Pak Anwari?

+ Tambah komentar
Comments
4 comments
Cobalah menggunakan RSS Feed. Dengan begitu update terbaru akan masuk melalui akun anda secara otomatis
dmilano mengatakan...

Saleum,
Damainya kehidupan santri. Gak seperti pendidikan disekolah yang disibukkan dengan tetek bengek duniawi

gagakasep mengatakan...

Banyak yang salah kaprah, sekolah dijadikan sarana pengajaran, padahal sekolah harusnya menjadi sarana pendidikan.

Ada esensi makna yang berbeda antara pengajaran dengan pendidikan

http://gagakasep.blogspot.com/2012/07/ada-apa-dengan-pendidikan.html

imaz maz mengatakan...

saya imas, mahasiswi UNEJ alamat pondok tersebut ada dimana?

Nlp Indonesia mengatakan...

kalau dilihat memang Damai kehidupan jauh dari mementingkan duniawi
Obat Batuk Herbal Anak
jadi terharu

Posting Komentar