Foto Saya

Subscribe now!My Feed

Kamis, 22 Desember 2011

Inikah Makna PemberianMu...???

7 comments

Teman yang tak pernah
menghinaku namanya 'meong'
Aku terlahir sebagai bayi. Tumbuh berkembang menjadi anak manusia. Dan sampai sekarang aku masih kumpulan dari anak-anak manusia. Bukan kumpulan dari orang yang terpinggirkan.

Sebelum menjadi janin aku adalah sesuatu yang kosong tanpa wujud - tanpa makna, lalu  diinginkan hadir demi melengkapi kebahagiaan sepasang suami isteri. Sejak memulai kehidupan didalam kandungan aku dielus-elus dengan harapan dan do`a-do`a:  menjadi manusia berbakti pada orang tua, berbakti pada Tuhan, dan berguna pada sesama. Memasuki usia kandungan 9 bulan, aku sangat diharap lekas keluar berada dikehidupan alam dunia.

Perjuangan hidup mati seorang ibu mempertaruhkan nyawa bergulat dengan rasa sakit mencabik-cabik, itulah bukti, bahwa aku memang sangat diinginkan hadir didunia ini. Akibat paksa tangan kasar seorang dukun bayi dan silau gemerlap cahaya dunia, aku tersentak,  lalu menangis keras-keras. Anehnya para tetangga yang mengelilingiku, termasuk bapakku, tertawa-tawa gembira menyaksikanku menangis. Dan ibu yang melahirkanku dianggap sebagai pahlawan dunianya para lelaki yang telah berjasa melahirkan bayi jantan dengan selamat. Oh....inikah alam dunia? Alam kontradiksi, alam yang sungguh-sungguh aneh bagiku.
Aku terlahir normal.  Tak beda dengan bayi sebayaku. Aku menyusu  dengan baik dan berkembang sebagai bayi yang sehat. Teramat bahagia sekali, aku tidak mengidap tanda-tanda penyakit autis. Dan aku diberi nama, Juri.

Satu tahun menjadi anak bayi rasanya begitu membahagiakan. Kemerdekaan hidup selalu menyelaput  rasa, menggelegar   tangis bahagia dalam dekap hangat kasih sayang ibu. Hingga prahara-prahara kemanusiaan itu mulai datang silih berganti meluluhlantak kesejatianku sebagai anak manusia.

Maret 2011 (pondok pesantren tanpa papan nama | Jambuan - Jember - Jawa Timur)

“Bagaimana prahara kemanusiaan itu mulai terjadi pada tuan Juri?”

Awal mulanya, harapan kedua orang tuaku terlalu berlebih melampaui ketentuan yang digariskan Tuhan.  Disisi lain para tetangga selalu menyorotku dengan tatap mata merendahkan tanpa mau tahu kondisi obyektif keterlambatan wicaraku. Menginjak umur dua tahun aku masih asik dengan tanda-tanda bahasa tubuh dan rengek tangis.  Sementara teman-teman seumuranku sudah mulai berkata dengan tertatih. Semua menjadi risau.  Terutama bapak-ibuku.  Perkembanganku dikhawatirkan menjadi manusia idiot.

Mereka tidak paham hakekat kehidupan ini. Dan mereka tidak mau sabar memahami, bahwa hidup adalah menjalani kesabaran demi kesabaran mengarungi samudera ketidak pastian  didalam bingkai garis kepastian fana. Sejatinya kalau ditunggu dengan sabar, aku meyakini pasti bisa bicara dengan normal layaknya anak manusia umumnya.

Pelajaran pertama yang aku petik dari mereka, bahwa menjadi anak manusia haruslah bersifat dan berperilaku tidak sabar. “Wow..! Itu sebuah pelajaran bagi manusia-manusia  ambisius tuan Juri! Jejak perjalanan tuan Juri mirip sekali dengan kelahiran dan perkembangan awal masa pencerahan. Sedang tetangga dan orang tua tuan, perangainya mirip dengan ambisi para filsof  maupun penyair  modernis, dimana, ambisi dan ego pribadinya selalu disamarkan atas nama kemajuan anak jaman. Akibatnya, penindasan kemanusiaan terjadi dimana-mana. Ckckck!”

Seterusnya dan berulangkali, aku dipaksa agar cepat bisa berwicara dalam bahasa mereka sehari-hari. Hati kecilku meronta dan berkata lirih, “sabarlah! tunggulah kondisi lidahku sampai tak bertulang”.  Mereka terus saja memaksa. Padahal Tuhan sendiri belum memperbolehkan aku bisa berkata-kata layaknya balita lainnya.  Mereka terus mencecar kata perkata, memaksa ajar wicara tiada henti.  Lantaran terpaksa,  aku turuti saja mereka. Susah payah aku mengucap huruf R.  Lantaran rasa terburu dan tertekan jiwa, menyebabkan lidahku keluh.  Er, aku ucap ey. Huruf L aku ucap en. Ku pikir orang tuaku puas, bangga, dan para tetanggaku merayakan kegembiraannya.  Alih-alih aku dikatakan sebagai anak pelo, anak idiot, yang  tak berguna bagi lingkungan.

Mereka tertawa-tawa melecehkan jerih payahku untuk menjadi sama dengan balita lain. Mereka tak menghargai setiap jengkal proses kehidupanku. Mereka hanya bisa memaksa beda agar menjadi seragam seperti adat kebiasaannya. Pelajaran kedua yang aku petik dari mereka, bahwa, menjadi anak manusia harus pula berlaku memaksa atas apa yang diinginkannya.

“Aduh..! Apa yang dialami tuan Juri benar-benar tragedi kemanusiaan seorang anak manusia. Ironis sekali. Dan pelajaran demi pelajaran yang dipetik  tuan semakin menyeramkan. Sebuah pelajaran penindasan  dan eksploitatif. Tapi kenapa Tuan Juri selama ini sangat baik padaku. Jangan-jangan tuan Juri adalah psikopat?”

Saat memasuki umur lima sampai tujuh tahunan aku yang bernama Juri, dipanggil Juyi. Dibaliknya, panggilan itu bermaksud jahat. Mereka menjadi puas mengolokku sebagai anak pelo. “Kalau Juyi bisa ngomong kata jeruk dengan benar. Nanti ibu kasih hadiah.” Ujar ibu guru SD ku.  Dia tak sadar kalau pertanyaannya akan memantik gelak tawa hina seisi ruangan kelas.

“Jeyuk.” Aku terpaksa menjawab biar seisi kelas menjadi gaduh sekalian. Dan semua teman-teman sekelasku menjadi berpesta tawa. “Hahahaha..!!” Kasihan orang tuaku, mereka menjadi malu. Oleh ibuku, atas saran tetanggaku, lidahku dikerok  dengan sendok alumunium, agar aku fasih mengucap huruf R. Tapi tetap tak mempan. Aku berfikir, apa yang salah dengan lidahku? Kalau mereka bangsa maju yang tak bisa mengucap R, tak dipermasalahkan. Kenapa kalau aku yang tak bisa mengucapkannya,  dunia   mencemoohku?

Sampai akhir tahun kelas 1 SD aku tak bisa membaca dan menghitung. Karenanya dua kali aku tak naik kelas. Aku berfikir untuk apa bisa membaca. Apa gunanya untuk bisa membaca. Bukankah aku lebih berguna jika pandai membaca alam sekitar saja? Bukankah lebih berguna jika aku pintar sigap membantu kerja meringankan beban orang tua? Untuk apa pula pandai berhitung. Tidakkah aku ini anak buruh tani bukan anak pedagang atau ilmuwan? Terpenting bagi seorang anak buruh tani adalah kuat mencangkul, rajin, jujur, dan mengerti nilai uang kertas sebagai alat tukar. Titik. Jadi, bukan karena kodrat alam aku tak bisa membaca dan berhitung sampai sekarang. Itu adalah pilihan hidupku dengan sadar.

Aku memang enggan mau membaca dan berhitung, Suatu pelajaran yang tak kubutuhkan dalam hidupku ini. Salah besar bila karena aku tak bisa membaca dan berhitung lantas dikatakan sebagai anak idiot. Aku juga adalah anak pintar yang mempunyai kelebihan dan kekurangan  sama seperti teman-teman lainnya. Namun kenyataannya, selalu menyedihkan. Semakin lama semakin perih menyayat kalbu. Selalu saja teman-teman sekolah dan para tetangga mencemoohku dengan nyinyir, bahwa, “Juri pelo dan idiot!”. Semburat sinar merah dari barat menyapa wajahku hangat meluruh rasa kecewa yang pekat. Pada sore hari itu  dipematang sawah sebelah rumahku, aku merenungkan kabut kesunyian hati yang semakin kelam.  

Aku mulai menyadari,  bahwa olok dan hinaan teman-teman, guru, dan para tetangga selama ini berbenang merah dengan realitas keluargaku yang bergumul dengan kemelaratan. Andaikata bapakku seorang Kepala Desa tentu mereka tak berani mengejekku sebagai anak pelo dan idiot. Keluargaku hanyalah kumpulan orang-orang melata teraniaya. Bapakku pekerja serabutan, terkadang menjadi tukang becak yang terlindas oleh penghasilan tukang ojek, dimasa panen ia menjadi buruh tani lepas, terkadang pula menjadi tukang pijat bagi para buruh tani lainnya. Sedang ibuku hanya sebagai ibu rumah tangga sibuk kesana kemari mencari utangan demi sesuap nasi bagi anak-anaknya. 

Kehidupan keluargaku jauh berbeda dengan tetanggaku. Para tetanggaku kondisinya jauh lebih baik.  Masing-masing rumah punya sepeda motor untuk memperlancar usaha ekonomi atau sekedar gagah-gagahan. Punya handphone, telivisi dan rumah yang berlantai keramik. Sedang anak-anaknya bila bersekolah atau mengaji, selalu berpakaian dengan seragam rapi disetrika. Setelah kutelisik ternyata kehidupan mapannya disebabkan, mereka mulai menganut paham materialisme. Materi hidup adalah segala-galanya. Uang menjadi sesembahan baru menggantikan posisi gusti Allah. Berbeda dengan anak-anak tetangga, bila kesekolah aku tak pernah berpakaian seragam merah putih, apalagi bersepatu. 

Konon warna merah putih adalah bendera kebangsaannya para guru, teman-teman, dan para tetanggaku. Dan bersepatu adalah lambang kemajuan,  kemoderenan gaya hidup anak jaman .  Disebabkan orang tuaku memang tak mampu membelikan seragam dan sepatu, maka baju bermain yang aku pakai sekaligus baju untuk bersekolah. Tak ada yang merasa iba mengulurkan tangan pertolongannya membelikan seragam sekolah untukku. Atau mengajariku hidup dengan kasih sayang. Justru kelainanku mengukuhkan anggapan negative mereka kepadaku sebagai, anak bodoh, anak melarat, jorok, dan idiot.

Aku tak kuat dengan situasi horror dan mencekam seperti itu. Yang selalu meneror eksistensi jiwaku setiap saat, dan memposisikanku selalu tersisih. Mereka lupa. Orang tuaku juga lupa.  Seharusnya mereka ingat, bahwa, merekalah yang menginginkan aku terlahir kedunia sebagai anak manusia. Berawal pertemuan hasrat cinta dua insan dalam perjanjian suci, disertai do`a-do`a dan pengharapan, bahwa janin yang tumbuh olehnya akan dibesarkan sebagai anak manusia. Tapi kini. Kenapa mereka memperlakukanku seperti bukan anak manusia?

Pelajaran ketiga yang ku petik dari mereka, bahwa menjadi anak manusia adalah harus menjadi petarung tangguh supaya bisa tertawa-tawa sewaktu menindas yang lemah.

“Baiklah, tuan Juri. Saya sudah mulai memahami kisah penyebab tuan menjadi pelo dan gaguk dalam berbicara. Andai mereka berlaku sabar tidak melampaui ketentuan Tuhan dan tidak menindasmu…!?”.

+ Tambah komentar
Comments
7 comments
Cobalah menggunakan RSS Feed. Dengan begitu update terbaru akan masuk melalui akun anda secara otomatis
Citrosblog mengatakan...

sebelum saya membaca, jadi saya komen biar tidak terlalu lama menunggu saya komen

hiii.. hii..

dmilano mengatakan...

Saleum,
Menyimak tulisanmu sob, aku menemukan beberapa motivasi didalamnya, salah satunya adalah, manusia itu tumbuh dan berkembang dalam proses yang sudah digariskan untuk menjadi seorang yang berhasil. semua tdk instan.
saleum dmilano

Coro | go a Head mengatakan...

@citro;hehehe betul betul makasi ya mas dah mau mampir ke gubug sederhana
@damiano ; hehe ya spertinya memang begitu mas bagi saya hidup adalah aliran air yang deras semakin kita melawan arus semakin susah, yang terjadi pada umumnya adalah berbalik, saya sendiri sja masih sering menuruti hasrat yang menurut saya yang terbaik, ternyata semua yang dilakukan belum tentu yang terbaik menurut Tuhan saya....salam reformasi mental mas damiano ;D

KoskakiUngu mengatakan...

sebagian teman2 saya manggil saya meong, malahan mantan pernah manggil saya kucing.. --"

btw, cara ngepollow blog ini gimana ya?hehe

Coro | go a Head mengatakan...

@kaokakiungu ; iya ya xixixi sudah saya tambah nih di bawah

DewiFatma mengatakan...

Nggak bisa membaca? Itu kan dulu, buktinya sekarang kamu bisa ngeblog :)

Anakku udah hampir 4 tahun, belum bisa bicara. Tapi kami berusaha tidak mempedulikan kata-kata orang. Membaca artikel ini, sedikit banyak menyadarkanku untuk tidak terlalu memaksakan kehendak padanya. Meskipun hatiku sangat ingin mendengar dia memanggilku mama dan bercerita padaku tentang apa saja.

Terima kasih sudah berbagi :) I like this :)

Coro | go a Head mengatakan...

Hehe itu adik tingkat saya di pondok kak....

Jika segala sesuatu selalu di paksakan berasa kurang total kita melakukannya namun ada sesuatu yang harus selalu di paksa yaitu kebaikan...

Posting Komentar