Foto Saya

Subscribe now!My Feed

Rabu, 14 Maret 2012

Testimoni Rakyat Bawah

4 comments

"Nggak betul mas kalau perekonomian desa dikatakan sudah maju, karena saya punya TV, rumah lantai keramik dan sudah punya sepeda motor. Ini semua hasil dari kerja bertahun - tahun merantau ke Malaysia. Kalau saya mengandalkan kerja disini, ya itulah, modal yang saya kumpulkan dari Malaysia itu makin lama malah makin habis. Sebentar lagi saya akan berangkat ke Malaysia untuk menutup hutang yang maikn bertumpuk, " Ungkap Basori warga Tanjungsari Kidul - Jember.

"Saya punya sepeda motor ini hasil dari kredit. Uang mukanya saya dapat dari menabung selama tiga tahun. Sudah dapat delapan cicilan. Sekarang sepeda ini rencananya mau saya oper kredit ke tetangga. Terlalu berat menanggung hidup perbulannya hanya demi punya sepeda motor yang bagus. Hidup saya setiap harinya seakan selalu dikejar-kejar setoran setiap bulannya, hingga hidup saya menjadi tidak pernah tenang. Mending seperti dulu saja, berjualan tahu tempe keliling desa dengan sepeda pancal." (Imam, buruh tani Tanjungsari Kidul)

"Saya dan istri membangun rumah ini kalau diukur dengan biaya sekarang mungkin bisa total seratus dua puluh juta. Tapi, saya bangun mulai tahun 2001 sampai tahun 2008. jadi tujuh tahun saya bangun rumah ini. Mengenai biaya pembangunannya hasil dari ngumpulkan sedikit demi sedikit. Mulai dari pondasinya, kayunya, bata, pasir dan lain-lain. Ditambah dengan penghasilan kerja isteri saya dari Arab Saudi" (Pak Purnomo, Petani marginal Tanjungsari Lor) 

"Kerja mbecak berangkat pagi pulang sore, hanya dapat sepuluh ribu. Itupun uangnya nemu dijalan, bukan hasil dari ongkos penumpang. Setiap hari kerja rata-rata hanya dapat 10 ribu sampai 15 ribu. Sedangkan harga kebutuhan agar dapur tetap mengepul semakin naik. Entahlah, mau apa kalau sudah begini?"  (Pak Satoya, tukang becak pertigaan jalan depan rumah saya)

Hitungan ekonomi desa memang tidak sama dengan hitungan matematika. Dua tambah dua sama dengan empat, kalau dihitung dengan rumus matematika. Sedang dihitung dengan rumus ekonomi, dua di tambah dua bisa bertambah empat, bisa bertambah delapan, bisa bertambah berapa saja, atau bisa jadi berkurang menjadi tiga, bahkan tidak berkurang dan tidak pula bertambah. Hitungan ekonomi desa tidak pernah bersifat pasti. Yang bisa dipastikan dari hitungan ekonomi desa yaitu, dengan ekonomi rakyat desa harus bisa hidup dan dihidupkan. Kalau dengan ekonomi rakyat desa menjadi tidak hidup, dan tak dihidupkan, maka, ekonomi rakyat desa seperti ada yang salah dengan teori dan paradigma ekonomi yang diterapkan pada (oleh) rakyat desa selama ini.

Benar yang di ungkap Basori dan warga Tanjungsari lainnya diatas, bahwa, tidak bisa disebut desa sudah maju, desa sudah makmur hanya dilihat dipermukaan panggung kehidupan desa. Kemajuan dan kemakmuran hanya dinilai dari rakyat yang sudah memiliki TV, rumah berlantai keramik, punya sepedah motor. Bila menggunakan parameter itu, dapat dikatakan seluruh rakyat desa yang ada di Jember Selatan sudah berkategori rakyat desa kaya, berekonomi maju dan makmur. Cobalah cermati ekonomi rielnya. Lihatlah bawah panggung ekonomi rakyat desa.  


Namun, pengamatan minor tentang kemajuan desa itu hanya berdasar testimoni rakyat bawah warga Tanjungsari - Jember. Sejauh pengamatan anda, bagaimana kondisi masyarakat di kampung halaman anda? mohon sampaikan pendapat di kotak yang sudah menunggu dari tadi?

+ Tambah komentar
Comments
4 comments
Cobalah menggunakan RSS Feed. Dengan begitu update terbaru akan masuk melalui akun anda secara otomatis
Asep Saepurohman mengatakan...

Elit ( ekonomi sulit ) di kampung saya juga ada yang beranggapan seperti itu mas, punya motor,tipi dan yang lainnya suka diledekin berpenghasilan besar. kaya lah itu lah.

oh ia,sebelumnya salam kenal mas :)

choirul mengatakan...

emakku tiap hari jualan ke pasar bisa dapat sekilo beras plus sayur buat makan per hari sudah sangat bagus, karena keluargaku g punya sawah
untung anak-anaknya bantu dikit-dikit buat kebutuhan tiap harinya

kalau di kota uang 5.000 bingung mau beli apa, begitu juga di desa, jika punya uang 5.000 bingung mau dibelanjain buat apa karena adanya cuma itu

Masbro mengatakan...

Pengamatan yang akurat. Cukuplah Jember Selatan (Tanjungsari) yang menjadi sampel, itu sudah menandakan mayoritas desa di Nusantara. Karena Tanjungsari itu keren :)

Tulisan iki kirimen nang Mr Presiden ageh, hehe..

Erwin mengatakan...

tak jauh beda dengan desa lain.
yang hidupnya berkecukupan tanpa kesulitan akan memandang remeh, bahkan malah ada yg menyalahkan, malas lah, suka rokok lah.
coba aja memasuki derah pinggiran, gang-gang, pedesaan, daerah pelosok2.
orang yg diatas sana bisanya cuma komentar aja.

Posting Komentar