Foto Saya

Subscribe now!My Feed

Minggu, 08 Januari 2012

Kopi di Luar Lebih Enak Dari Pada Kopi Dirumah

1 comments

Kopi sachet atau kopi instan biasanya dihibungkan dengan kopi kaum penggembira. Dengan rasa yang sama tanpa bisa di-edit, membuat rasa kopi biasa saja (lidah saya).

Berbeda dengan kopi hitam, menikmatinya bergantung pas dan tidak hasil racikannya, biasanya di hubungkan dengan siapa yang minum. Para suami penikmat kopi dianggap tukang protes, kalau racikan kopi istrinya kurang pas, kalaupun gak protes, sekedar untuk menghargai si pembuat (alias suami suami takut istri).

Akan tetapi, ada 'persembahan' beraroma kopi tradisional pinggir jalan, yang selalu ramai digandrungi pengopi tiap malam. Peduli setan racikan terlampau pahit atau manis, asap rokok selalu mengepul di antara obrolan di warung kopi. Entah mengapa kopi warung selalu lebih enak dari pada kopi dirumah. Kita selalu tak mau kehilangan suasana setiap hari, bahkan untuk sekedar minum secangkir kopi...

Apalagi warung yang berbau cetol, aktivitas malam kebanyakan kaum perjaka hingga duda dihabiskan disini. Selain bisa menikmati kopi dengan pelayan yang sengaja disediakan untuk teman ngobrol, penikmat juga bisa merasakan nyetol pipi para pelayan. Barangkali saja agar lebih terasa kopi bubuknya... 
Warung kopi, cafe (dibaca kafe) dan sederet WARKOCET (Warung Kopi Cetol), banyak muncul dari keinginan mencukupi kebutuhan supaya berkehidupan lebih baik dari pada menjadi penganggur. Sepintas memang dapat diterima argumen seperti itu. Dia bertolak dari kondisi dan perhatian pemerintah terhadap pengangguran. Kalaupun ada istri yang keberatan suami pergi ke warung kopi, tentu si istri tidak mengerti betapa mulia suami mengentas banyak pengangguran.  

Tapi bukankah menikmati kopi sambil nyetol istri sendiri lebih baik dari pada ngopi di luar?

+ Tambah komentar
Comments
1 comments
Cobalah menggunakan RSS Feed. Dengan begitu update terbaru akan masuk melalui akun anda secara otomatis
dmilano mengatakan...

Saleum,
Saya gak terlalu suka ngopi diluar mas, terkecuali sinyonya pun ikutan. Soalnya kopi saya "khusus" jadinya lidah kadang gak terima kopi diwarkop pinggir jalan.
saleum dmilano

Posting Komentar